 |


 |
|
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |
Penghujung bulan Maret merupakan awal dari mulainya musim panas, di mana butiran pasir berterbangan, debu-debu berhamburan dan keringat manusia bercucuran, terasa berada di neraka jika digambarkan. Musim panas kadang ku rindukan ketika dingin menyerang, namun kadang kala membuatku jengah ketika ku terjebak dalam lautan manusia di Attaba, bermacam-macam bau tak sedap bersarang di rongga dada. “Gila, ini orang Mesir kaya gak mandi seminggu aja” gerutuku seenaknya, padahal jika diteliti dengan seksama aku tidak ada bedanya dengan manusia-manusia di Attaba ini, bau.
“Don, kita mampir dulu ke masjid yuk, panas banget neah, kita istirahat dulu sejenak sekalian nunggu shalat Ashar” ajak Agus kepadaku.
“Yupz, memang saat ini tak ada yang bisa membuatku bahagia, selain menyentuh air” sahutku menambahi. Setibanya kami di masjid Attaba, sejenak ku telusuri pandangan ke sekeliling masjid yang semenit akhirnya ku langkahkan kaki ke tempat wudlu. Di sudut kanan ruangan ku temukan seorang syekh muda sedang berdzikir, sedang di bawah tiang belakang ku dapati orang Rusia yang sedang membaca al-Qur’an, syahdu. “Indahnya nuansa Kairo, al-Qur’an dibaca dan dihafal oleh masyarakat setempat di manapun mereka berada; di halte, dalam bus, sedang menunggu antrian atau kadang ketika berjalan, seandainya budaya seperti ini diterapkan di Indonesia, insya Allah jorgan Gemah Ripah Loh Jinawi atau Bhineka Tunggal Ika akan tercipta”, batinku berkata. Jika mengingat Indonesia yang sekarang, aku teringat akan bumi Indonesia yang seakan mengadu padaku. Mengadu akan sakit yang diderita tak bisa terobati. Sudah berpuluh-puluh tabib didatangkan, bermacam-macam dokter dikerahkan, namun tak ada satu obat pun yang dianjurkan mampu menyembuhkan. Sepertihalnya "laksana" bom telah diendapkan, injeksi bor telah dilakukan dan sirup air pun tetap tak bisa diandalakan, semua jenis obat tak bisa memulihkan, jangankan menyembuhkan, mengurangi sedikit sakitanpun tak kuasa.
Dan kini... berbagai label penyakit telah menempel pada tanah Indonesia, dari mulai batuk-batuknya pantai Sumatra yang menyebabkan Tsunami bergelombang, meriang di gunung merapi hingga keluar dahak lava merah darah menyala, sesak nafas di bumi Minang dan Jogjakarta, dan kini lendir lumpur Lapindo menggenang di Sidoarjo. Indonesia makin mengerang menahan sakit yang berkepanjangan, keluhan ia adahkan, berdoa selalu ia aktifkan, namun sakit itu tetap tak mudah untuk dipulihkan. Memang Indonesia sadar, di usianya yang semakin senja, semakin tua dan semakin renta, tak ada logika untuk bebas dari yang namanya sakit, manusia-pun sama, jika usia semakin tua maka penyakit kan terus bersama. Kadang manusia tak tahu balas budi, seenaknya menganiyaya bumi, seangkuhnya menyakiti bumi, dan gemarnya ia merusak bumi. Padahal jika bumi meronta dan terdengar oleh kita, nisacaya pecahlah gendang telinga, jika bumi menangis banjirlah bukit dan gunung yang ada di dadanya; namun sayang dunia begitu tabah dan sabar bahwa itu memang sudah tabi’at manusia, ia terus dan terus tawakal pada Allah Sang Pencipta. Pernah ada manusia yang mencoba simpati dengan kondisi dunia, kemudian ia mencoba membalut luka di sekujur badannya, mencoba tuk melindunginya dan mencoba tuk menghibur dirinya yang kian renta lagi melemah. Namun akhirnya semua tak berlangsung lama, terlebih ketika serangan manusia dengan manusia terjadi, membuat dunia kembali terluka, sakit menganga dan perih dirasa. “Hmm... tuhan apakah hamba mampu menyembuhkan kondisi Indonesia yang kian parah itu setelah hamba berhasil meraih cita dan cinta di Bumi Kinananah ini?” ***
Pagi di musim panas terasa sangat sejuk, udara masih bersih; dari pepohonan kita hirup oksigen yang telah ia keluarkan, oksigen murni tanpa adanya asap kendaraan yang bercampuran, karena memang aktifitas pribumi Mesir di mulai sekitar pukul 09.00 Wk. “Gus, Gus... bangun Gus, udah Shubuh, adzan memanggilmu dan masjid menantikanmu.” sambil terus menggoyang-goyangkan badannya, tak berapa lama akhirnya ia bangun juga. Dalam perjalanan menuju masjid Sarbini, Agus berkata “Pagi-pagi musim panas di Kairo terasa seperti di Kuningan yach Don, angin gak begitu kencang, udara dingin tapi menyejukkan, jadi ingin kembali ke our boarding al-Ikhlash. Tapi... kalo siang ga beda jauh dengan Cirebon, panas dan gersang”. “Tapi inget, malam harinya itu yang terasa seperti di Indramayu Gus, malam yang eksotis terasa romantis, apalagi penjaja malamnya, mirip kayak Telletubies.” Kami pun tertawa bersama-sama. Tags: cirebon, indramayu., kairo, kuningan Current Location: Egypt Current Mood: :p Current Music: Rumah Takwaku (Seismic; vol. II-Rinduku Karena-Mu)
|
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |

 |
|
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |
Ketika sang matahari memancarkan cahaya keemasannya, aku berdiam sambil sesekali merenungi akan diriku sendiri. Ku akui sebenarnya kalau dilihat dari naluriku, aku patut bangga dengan diriku yang sekarang ini, aku sering disanjung dan dihormati banyak orang, bahkan seluruh warga Indonesia menjunjung tinggi keperkasaanku. Namaku terus berkibar melambai-lambai diiringi dengan hembusan angin yang terus setia menemaniku, terik mentari menyegarkan tulang-tulang badanku, awan biru senantiasa memayungi tubuh gagahku, dan sekalipun aku tidak pernah terkena satu tetes rintik hujan yang mengenai tubuhku; sebab jika begitu, itu merupakan sebuah pelecehan terhadapku, maka orang-orang selalu melindungiku dari basah air hujan atau terik panas yang menyengat; tapi keadaan itu dimulai sekarang, sejak bangsa Indonesia merdeka.
Namun dulu, jangankan air hujan, air seni-pun pernah kurasakan, waktu itu seorang serdadu Belanda yang angkuh mendapatiku masih berdiri di depan singgasananya yang megah-di mana kala penjajahan itu Indonesia terbilang jauh ke belakang dibanding dengan Belanda-lantas seketika itu pula ia menghempaskanku sampai kutersungkur ditemani dengan debu-debu yang telah menjadi lumpur terkena hujan, lalu aku dinjak dan tubuhku digilas-gilas oleh sepatunya yang keras. "Bangsat kau Belanda".
Setelah puas dengan siksaan dari sepatunya yang keras itu kini penghinaan terhadapku beralih pada perilaku yang lebih hina dina lagi; aku dicampakkan olehnya, dirobek-robeknya, diinjak-injaknya dan terakhir disiramnyalah aku dengan air seninya sehingga tercium oleh indra penciumanku bau pesing yang teramat sangat. "Persetan kau Belanda", namun aku terus bersabar, karena ku yakin sabar itu ada hikmahnya.
***
Sudah rutinitas satu hari dalam seminggu, anak-anak dengan baju merah putinya atau biru putihnya berbaris mengelilingiku, mereka menghadapku dan menghormatiku sebagaimana nenek moyang mereka melakukan begitu padaku, kadang aku merasa risih dengan perilaku mereka yang turun menurun dari nenek kakeknya hingga cucu-cucunya. Aku merasa tak pantas diperlakukan seperti itu; dihormati-lah, disanjung-lah, diagungkan-lah, dan sederet semua kegagahperkasaan tertuju padaku. Aku sadar ada yang lebih agung dariku, ada yang lebih perkasa dariku dan ada yang lebih dan lebih dariku. Makanya aku sering berteriak agar mereka menghentikan aktivitas mingguan itu, namun apalah daya suaraku tidak dimengerti olehnya sehingga mereka tetap melakukan ritual itu tanpa bisa mendengar dan mengerti akan tangis nelangsaku.
Aku bukan menangis karena cengeng, bukan pula karena bangga pada mereka yang tak henti-hentinya menghormatiku, melainkan hatiku merasa hina diperlakukan seperti itu, sebab ada Tuhan yang patut kita perlakukan seperti itu.
Aku sering memohon pada angin agar ia bisa menerbangkanku ke tempat yang jauh dari jangkauan manusia, tapi sekuat apapun angin berhembus, takkan bisa membuat tubuhku lepas dari semua ini, lantas ia pun berkata, "Sabarlah sobat, aku tidak bisa melepaskan belenggumu dan menerbangkanmu ke tempat yang kau kehendaki. Maafkan kelemahanku, mungkin lain kali kan kubawa beserta teman-temanku untuk membantumu".
"Terima kasih angin sabahatku, kau telah berusaha sekuat tenaga membantuku, itu sudah cukup membuatku bahagia. Aku pasrah jika aku terus seperti ini, mungkin ini adalah takdirku. Sekarang pergilah, tugas lain menunggumu. Masih banyak manusia yang membutuhkan hembusan angin segarmu di ujung belahan bumi sana", ujarku bijak.
Aku terus bertanya-tanya mengapa manusia belum juga sadar untuk tidak berperilaku hormat, mengagungkan, dan memuji keperkasaanku, sampai-sampai kadang ku berputus asa. Aku hanya bisa bersabar dan terus bertawakal mengikuti skenario-Nya yang pastilah baik dan aku tidak mau bersu'udzan akan diri-Nya.
Angin tak bisa melepaskanku. Kini aku masih mencari-cari kepada siapa lagi aku yang akan bisa kumintai bantuan untuk melepaskan dari belenggu musyrik ini. Sejenak kuberfikir dan retina mataku liar menatap ke sekeliling dan... "aha..! ada burung gagak bertengger di dahan pohon kapas tepat di sampingku berdiri". Seketika itu pula aku berteriak memanggil gagak dengan suara lantang. "Wahai sahabatku gagak, kumohon luangkan waktumu sejenak, dan tolonglah sahabatmu ini agar bisa terlepas dari belenggu musyrik ini".
"Ada apa denganmu sobat? Apa yang harus kulakukan agar bisa membantumu, sehingga kamu bisa merasakan kebahagiaan kembali?"
"Wahai gagak, perhatikanlah tali yang mengikat tubuhku ini sobat, tali inilah yang bisa membuatku merana. Tolong patuklah ikatannya, dengan begitu aku harap ikatan itu bisa putus karena patukanmu, sehingga aku bisa lepas dari kesengsaraan ini".
Segera sang gagak terbang menghampiriku setelah ia mendengar keluh kesahku. Mungkin ia bisa merasakan betapa tersiksanya dengan suasana ketidakbebasan laksana perbudakan. Seperti halnya ia dulu pernah meringkuk di sangkar sang pemburu beberapa minggu yang lalu, untunglah nasib baik berpihak kepadanya. Ia bisa kembali terbang bebas setelah sangkar kayunya hancur terhempas di jalan saat pemburu membawanya pulang.
Gagak yang baik hati dan simpati itu, kini sedang mematuk tali yang terikat kuat pada tiang besi sekuat paruh burung mematuk daging kala lapar mendera, namun seberapa kuatkah ia memutus tali yang kuat terikat? paruh hanya terbuat dari tulang halus dan tak pula setajam pisau yang sudah terbiasa digunakan hanya untuk memotong daging atau rumput ketika sang burung merasa kelaparan. Bukanlah hak paruh jika digunakan untuk memotong tali, lebih-lebih tali itu terikat kuat pada ujung besi. Hampir lima menit sang gagak berusaha memutus tali dan hanya beberapa milimeter saja yang mampu ia putus. Di menit keenam, kudengar suara retak dan erangan gagak .
"Suara apakah itu wahai gagak", tanyaku penasaran.
"Ah.. tidak apa-apa sobat, paruhku hanya sedikit patah, ini tidak masalah".
"Tapi, jika ujung paruhmu patah bagaimana kau memotong daging untuk makan sehari-harimu?".
"Allah sudah mengatur rizkiku juga rizkimu sobat, sabarlah", jawabnya bijak.
"Kau sungguh bijak sahabat. Maafkan aku yang telah membuat paruhmu patah. Mungkin lebih baik kau tinggalkan aku. Biarlah kuterima takdirku, terikat dan terbelenggu. Sekali lagi, maafkan aku".
Tanpa banyak berucap gagakpun terbang meninggalkanku sendirian, mungkin ia juga merasakan sakit ketika paruhnya patah, tapi kesakitannya sengaja ia tutupi agar ia merasa tegar di mata yang lain. Aku menyesal, kenapa kuminta tolong pada gagak, ia hanya seekor burung biasa, yang paruhnya dikhususkan untuk memotong daging dan bukan tali, ah... bodohnya aku. Kenapa bukan pada Allah saja yang Maha Kuasa, pada-Nya saja yang seharusnya kumintai pertolongan, bukan pada angin, burung dan juga bukan pada semua makhluk-Nya, mungkin Tuhan akan menolong hamba-Nya melalui perantaraan manusia atau makhluk-makhluk lainnya.
Kala itu juga aku bersimpuh, khusyuk kuucap doa... "Ya Allah, tolonglah hamba, lepaskanlah hamba dari belenggu siksa batin ini. Amiin.." Hampir tiga bulan aku menjalankan aktivitas makruhku ini. Tubuhku masih melambai-lambai di pucuk tiang, seakan menunggu jawaban yang tak pasti, kapan waktu akan membuktikan, mengakhiri siksa batin ini.
Kukatakan aktivitas makruh karena selama ini kulakukan dengan terpaksa dan bukan dengan kehendak hati yang ceria, apalagi bahagia. Walau kibaranku kian hari kian meliuk indah laksana penari malam di perahu apung sungai nil hamparan Tahrir. Pesona merahku memancar terang ketika cahaya sang surya melesat menabrakku, dan putihku seputih warna tulang manusia senantiasa memberikan nilai khusus bahwa aku masih suci, sekalipun liukkanku mengalahkan para penari perahu apung itu, tapi dengan warna putihku aku akan tetap terasa masih perawan.
Tiba-tiba di kejauhan mata memandang, kulihat kilauan titik putih memancarkan cahaya indah, kian lama titik putih itu makin terlihat jelas oleh retinaku dari ujung tiang yang tegak tempatku meliuk badan, dan kini ia semakin dekat dan semakin sadar bahwa titik itu seorang manusia berjubah putih. Pantas saja dikejauhan kulihat seperti cahaya yang berjalan, nyatanya cahaya itu terpancar dari jubah putihnya, sama putihnya pada paduan tubuh merah dan putihku yang jika sinar mentari memancar sinar akan terpancar dari putinya. "Aku bangga dengan merah putihku".
Di suatu petang dalam dekapan jubah malam di bulan Agustus, aku mendapati butiran warna biru dengan kemasan bertuliskan PERSIL di atas tubuhku. Rupanya butiran itu berasal dari seseorang yang bertangan kasar, panitia 17 Agustus berstatus mahasiswa al-Azhar, dia-lah yang sejak lama setia menjaga dan merawat diriku sampai saat ini. Dengan riang ia mencuci tubuhku, dengan siulan lagu India ia mengucek-ngucek noda di putihku dan dengan siraman halus ia bilas tubuhku serta dengan bentangan mesra ia baringkah tubuhku pada kawat yang terikat panjang memanjang, hingga tubuhku kering dari basah dan dinginnya air. Ia juga yang memijit-mijit tubuhku dengan besi panas berdada segi tiga jelmaan dari energi listrik ke energi panas.
Setelah ia menyetrika diriku, ia meletakkanku di lemari yang baunya laksana wewangian di ruangan syurga, sayup-sayup dalam ketidaksadaranku karena mabuk wewangian, mahasiswa itu berucap dengan suara khidmat, ia beri alasan mengapa ia melakukan yang terbaik selama ia hidup untukku, sampai-sampai ia sendiri yang merawatku dan ia sendiri pula yang menghormatiku sampai-sampai ia sendiri yang berani mengorbankan tenaga dan waktun belajarnya hanya untuk melihatku terus tegar berkibar di ujung tiang kemerdekaan.
Aku tertegun ketika ia selesai berucap bahwa ia menghormatiku dan mengagungkanku tidak lain karna akulah sebagai simbol negara. Akulah Sang Saka Merah Putih kebanggaan bangsa Indonesia; sebab itulah, aku terus berada di setiap hati anak negeri. Aku masih tertegun, kala sisi hatiku berkata. "Biarlah mereka menghormatiku, biarlah kuterima nasibku yang selalu terbelenggu, karena di balik semua itu, tugas mulia menungguku. Karena aku, simbol negeriku, Indonesia berasaskan Pancasila. Tags: indonesiaku bahasaku, indonesiaku bangsaku, indonesiaku negriku Current Location: Egypt Current Mood: peaceful Current Music: Indonesia Raya
|
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |

 |
|
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |
Trik agar al-Minhaj terjual, tp it's Minhaj's Secret oke..
Prolog. Waktu itu aku sedang ngobrol via chating dengan salah satu kru al-Minhaj yang baek hati banget, kala itu aku iseng menanyakan apakah al-Minhaj sudah laku terjual, lantas ia jawab "satupun belum". Akhirnya aku-pun keluarkan jurusku..
Keterangan aQ = ya aku, penulis.. Dy = Salah Satu Kru al-Minhaj yg Bae Hati Banget itu..
Ini dialognya.. aQ : Btw Minhaj dah terjual lom? harus habis tuh, ada hadiahnya lho.. Dy : Belom, satu ja belom. aQ : Yah.. [ada sedikit kecewa, tp faham lg ujian] aQ : Kalah doung ma aku Dy : Ya maap [ngerasa gak enak kali yach..] aQ : Gni setrateginya A [anggap z kru itu si A]
Akhirnya kuceritakan dech triknya.. Ketika kita bertemu dengan teman kita, sekalipun itu teman dekat/ jauh, satu fakultas, beda fakultas, ya siapapun orangnya -yang penting orang itu care sama kita-, kan kadang orang kalau kita todong dengan langsung menyuruh beli Minhaj, maka pastinya orang tersebut rada ogah-ogahan kan?! dan kita merasa gak enak.
Lalu spontan Dy balas di via chat itu, "tp masalhnya ana g ketemu ma orang2, ana di rumah ja semenjak ujian". aQ : gpp tmn satu rumah juga, so triknya kita dengan dialog. Masa cuma buat dialog 1-5 kalimat z g bsa, walau lg belajar segitu ku kira g ganggu belajar. Betul?! aQ : Gni dialognya..
Misal teman kita itu bernama si B, dialognya: Qt : "si B, ada uang 1 pon Nush ga??" Trus djwab ama si B, "ada, wat apa..?" Balas lg, "ya udah sini ana minta*" Biasanya si B akan ngasih walau kita gak menjawab untuk apa, apalagi teman kita, insya Allah faham dan si B gak perlu tau untuk apa uang itu.
Nah.. setelah uang dah berpindah tangan, dari si B ke kita, waktu itulah kita kasih buletin kebanggaan kita al-Minhaj. Setelah itu baru kita terangin bahwa kita minta uang 1.5 Le itu untuk beli Minhaj, tp jangan lupa kita akhiri dari keterangan itu DGN SENYUMAN, biar shodaqoh kan?!
Perlu tau I. Sekalipun si B awalnya berniat ikhlas ngasih uang 1.5 Le untuk kita dan kita untuk Minhaj, so itu tidak ada yang menyalahi kan?! tp afwan jika itu salah, karna memaksa; maybe. Tapi menurutku insya Allah gak apa-apa dan malah sama-sama akan dapat pahala, karna si B niat shodakoh untuk kita dan kita sodakohkan lagi untuk Minhaj atas nama si B. Gitu dech..
Perlu tau II. Kulakukan trik itu karna psikologi Masisir dgn buletin, klo disuruh beli terang-terangan agak ogah-ogahan, beda halnya dengan ngasih cuma-cuma untuk teman sendiri, it's easy; ringan banget untuk shodakoh.
Contoh pas di bis, kita cepet-cepetan agar bisa traktir teman kita kalau lagi pergi bareng, betul kan..?!
Dy: ya deh kk..
Keep Smile, Give u'R Smile to All Person and Give u'R Love Just One Person..... Tags: niat baik bisa dicapai dgn niat baik pul Current Location: Egypt Current Mood: accomplished Current Music: Seismic vol. II
|
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |

 |
|
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |
Dikisahkan bahwa ada seorang lelaki miskin yang mencari nafkahnya hanya dengan mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya di pasar. Hasil yang ia dapatkan hanya cukup untuk makan. Bahkan, kadang-kadang tak mencukupi kebutuhannya. Tetapi, ia terkenal sebagai orang yang sabar. Pada suatu hari, seperti biasanya dia pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar. Setelah cukup lama dia berhasil mengumpulkan sepikul besar kayu bakar. Ia lalu memikulnya di pundaknya sambil berjalan menuju pasar. Setibanya di pasar ternyata orang-orang sangat ramai dan agak berdesakan. Karena khawatir orang-orang akan terkena ujung kayu yang agak runcing, ia lalu berteriak, "Minggir... minggir! kayu bakar mau lewat!." Orang-orang pada minggir memberinya jalan dan agar mereka tidak terkena ujung kayu. Sementara, ia terus berteriak mengingatkan orang. Tiba-tiba lewat seorang bangsawan kaya raya di hadapannya tanpa mempedulikan peringatannya. Kontan saja ia kaget sehingga tak sempat menghindarinya. Akibatnya, ujung kayu bakarnya itu tersangkut di baju bangsawan itu dan merobeknya. Bangsawan itu langsung marah-marah kepadanya, dan tak menghiraukan keadaan si penjual kayu bakar itu. Tak puas dengan itu, ia kemudian menyeret lelaki itu ke hadapan hakim. Ia ingin menuntut ganti rugi atas kerusakan bajunya. Sesampainya di hadapan hakim, orang kaya itu lalu menceritakan kejadiannya serta maksud kedatangannya menghadap dengan si lelaki itu. Hakim itu lalu berkata, "Mungkin ia tidak sengaja." Bangsawan itu membantah. Sementara si lelaki itu diam saja seribu bahasa. Setelah mengajukan beberapa kemungkinan yang selalu dibantah oleh bangsawan itu, akhirnya hakim mengajukan pertanyaan kepada lelaki tukang kayu bakar itu. Namun, setiap kali hakim itu bertanya, ia tak menjawab sama sekali, ia tetap diam. Setelah beberapa pertanyaan yang tak dijawab berlalu, sang hakim akhirnya berkata pada bangsawan itu, "Mungkin orang ini bisu, sehingga dia tidak bisa memperingatkanmu ketika di pasar tadi." Bangsawan itu agak geram mendengar perkataan hakim itu. Ia lalu berkata, "Tidak mungkin! Ia tidak bisu wahai hakim. Aku mendengarnya berteriak di pasar tadi. Tidak mungkin sekarang ia bisu!" dengan nada sedikit emosi. "Pokoknya saya tetap minta ganti," lanjutnya. Dengan tenang sambil tersenyum, sang hakim berkata, "Kalau engkau mendengar teriakannya, mengapa engkau tidak minggir?" Jika ia sudah memperingatkan, berarti ia tidak bersalah. Anda yang kurang memperdulikan peringatannya. "Mendengar keputusan hakim itu, bangsawan itu hanya bisa diam dan bingung. Ia baru menyadari ucapannya ternyata menjadi bumerang baginya. Akhirnya ia pun pergi. Dan, lelaki tukang kayu bakar itu pun pergi. Ia selamat dari tuduhan dan tuntutan bangsawan itu dengan hanya diam. Tags: hikmah Current Location: Cairo Current Mood: sympathetic Current Music: Rossa-Ayat-ayatCInta
|
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |

 |
|
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |
"Enak kali yah liburan kali ini punya cewek? Bosen tiap hari kerjaannya tidur dan nonton mulu; jalan-jalan ah" waktu itu entah mengapa tiba-tiba aku merasakan kejenuhan yang teramat sangat, banyak ajakan untuk menghadiri acara di Indonesian Hostel, Griya KSW, Pasangrahan KPMJB atau mendukung tim kesebelasan di Nadi Tola'i, namun kesemuanya aku tolak dengan senantiasa menjawab "males ah, entar aja" selalu saja begitu, gak ada kelunya lidah berucap dan menolak dengan kata malas. Di perjalanan yang aku sendiri tidak tau kemana arah tujuannya, fikiran ini terus terbayang akan perangai kawanku tempo hari, ia terkesan asyik berbincang-bincang di Asir Ashob dengan tunangannya. "Andai liburan kali ini punya pacar, asyik kali yah?" Duuh.. batinku mengguman lagi, dan "Adaw..!" terdengar suara akhwat di telingaku, “ada apa gerangan?”. Eh si Rena, dan oups.. ia mengaduh kesakitan gara-gara kaleng Pepsi yang kutendang tadi mengenai kepalanya. "Hei Yan!, hati-hati dong kalau buang sampah, jangan asal buang sembarangan, sakit tau kepala kena kaleng Pepsi yang kamu buang itu". "Adduh.. afwan banget Ren, sungguh afwan banget, ana gak sengaja". "Gak sengaja sih gak sengaja, tapi sakit neh. Emang kamu kenapa sih, kok murung gitu?!" "Ah gak kenapa-napa kok Ren, biasa jenuh aja liburan kaya gini nonton mulu, tapi sungguh lho, tadi afwan banget". "Iya.. sudah saya maafin, tapi awas jangan diulangi lagi". "Ok deh" Lalu setelah basa basi sebentar kemudian ia berpamitan tuk mendahuluiku berjalan ke depan; aku tau tujuannya, pasti ke PPMI. “Creb..” panah kagum dewi Amor tepat mengenai ulu hatiku dan mawar-mawarpun berhamburan di bola mataku. Gombal. Rena asli anak Gamajatim, kukenal dia dua tahun yang lalu di PPMI; siang itu aku hendak ke PPMI untuk memperpanjang kartu PPMI yang rencananya sabtu depan mau kugunakan untuk perpanjang visa di Abbasa’at; tanpa disengaja aku dimintai pertolongan oleh dia untuk mengangkat sofa ke dalam aula Wisma Nusantara. Waktu itu akan ada acara seminar bedah buku Jilbab; studi kasus di Perancis. Selain Rena juga mempunyai paras yang tak kalah cantik dengan Alena si madona di kawasan Gami' Station tempat aku tinggal; ia juga seorang aktifis muda yang eksekutif, inovatif, brilliantif dan pastinya mudah bergaul. Rena anak yang lugas dalam bermu'alah dengan orang lain, maka tak heran banyak sekali laki-laki yang berusaha ingin memperistrikan dia. Namun kabarnya dari teman-temanku seflat, mereka semuanya ditolak. Tak tahu kenapa, Rena yang sudah hampir masuk tingkat IV itu belum menikah, padahal di Kairo kan budanyanya nikah muda; “entahlah.. Bodo amat”. Sejak peristiwa kaleng Pepsi itu, entah mengapa aku lebih banyak menghabiskan waktu di persimpangan Bawabah III, hampir tiap hari aku pasti melewatinya; tidak sore, siang atau-pun pagi, “kan pergi ke kampus pasti pagi-pagi” fikirku dalam hati. Awalnya sih aku minta maaf ketika pertama kali telpon dia di sore harinya, namun lama-kelamaan aku kok lebih banyak ngobrol yang lainnya daripada minta maafnya? “Ah dasar, emang kalo jodoh gak kemana-mana.” Fikirku menghayal. Hingga lucu ada kalimat yang kubuat di papan pengumuman rumah; yang kalimatnya, “jika ada yang mau ke Bawabah, aku ikut!”. Gila kan.. tujuannya tak lain mencari sosok Rena yang sejak awal pertemuanku tempo hari lalu beranjak dari telpon minta maaf dan bla.. bla.. bla.. itu aku pribadi mulai naksir padanya; dari tutur katanya ia terkesan sopan banget dan kalimatnya membuatku ingat bahwa hidup di Kairo itu untuk belajar, mengejar cita-cita kebahagiaan orang tua, jangan lama-lama terbuai di Negeri Musa. Kupikir ini lebih baik daripada nonton film laga atau film Mawar yang reputasinya hanya itu-itu saja. “Percintaan; Membosankan, mending nikah!”. Dalam tekad sekali bertemu kembali dengan Rena, aku lamar dia, aku bosan dengan membujang di umur 24, memang sih aku baru tingkat IV, Lc juga belum. Tapi gak apa-apa; toh orang tua sudah membolehkan. Kembali ke Rena, dari kedekatanku hanya sekedar telpon akhirnya aku ingin mengobrol dan ketemu langsung dengan dia, perlu tau aku salah satu sosok pelamar atau menembak wanita yang anti lewat telpon, bagiku tidak menantang ekpresi, kalau di telepon takutpun bisa disembunyikan; gak jentel. Sejak itulah, awal sebuah perubahan besar dalam garis edar kehidupanku, hingga lazuardi-ku kini telah membiru, degup jantung pemuda terus memompakan jiwa semangat Dji Sam Soe; alias Djihad Sampe Soebuh. Dan tak lupa di setiap akhir kalimat di SMS, telepon atau dalam berbincang pasti muncul kata "jangan lupa berusaha belajar ya, Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang terus berusaha, hati-hati dan jaga hati". Lazuardiku kini di luar kebiasaan memang; laksana judul film Finish The Dasrknes Come The Lighnes. Yang dengan begitu membuat aku dikerutkan oleh kawan-kawan serumah, bagaimana tidak; Adrian yang biasanya anti berlama-lama dengan muqorror lantas kini betah bercengkrama berjam-jam dengannya, Adrian yang anti ke masjid, ke kampus dan ke acara-acara kemahasiswaan kini benar-benar candu dengan itu semua. Sungguh mencengangkan. “Kamu habis makan apaan Yan, sampe berubah haluan gitu; mau-maunya kamu mati-matian di depan muqorror atau panas dingin menyamperi acara di Indonesian Hostel” timpal Akira suatu ketika. Tapi diedit oleh Andre sang Editor koran mingguan Lazuardi Azhar, ”Hus.. bukan Indonesian Hostel. Tapi Indonesian Hotel. Karena sekarang Wisma udah dibisniskan semua”. Lantas dengan senyum yang kubuat semanis mungkin kujawab pertanyaannya, “ada dech.. mau tau aja”. TAMAT *** Tags: inspirasi dulu :) Current Location: Cairo Current Mood: satisfied Current Music: Coming for You -JoJo-
|
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |

 |
|
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |
Kairo, kota yang eksotis dengan daya tarik al-Azhar yang klasik; ditambah dengan hadikohnya yang romantis tika malam hari, dengan tembakan cahaya lampu di bawah kaki berpijak; membuat hati terasa indah menatap langit-langit Kairo dengan lampu mercury di sepanjang sudut jalanan Husain Attabah; pasar rakyat yang murah meriah. Katanya.
Malam itu sejenak seorang anak kuliyahan berbaring diri di atas rumput malam dengan sesekali melihat bintang yang bergemerlapan. Di retina mata terlihat bintang Timur paling terang di antara ribuan bintang yang sesekali menyapa dengan kerlipnya yang terkesan genit. Mungkin ia bertanya dalam kebisuan, “apa yang menyebabkan pemuda itu terus memandangi bintang Timur itu yah; adakah sesuatu yang tersembunyi dari lubuk hatinya?? Entahlah hati manusia banyak menyimpan sejuta rahasia”.
Beberapa menit dalam diam, bosan dengan keadaan dan perut merasa kelaparan; lantas ia bangkit menyapa sahabatnya yang malam itu terlihat cantik dengan busana muslimahnya berwarna biru. Entahlah, sahabatkah ia, atau kekasihkah ia; yang pasti dalam hati ia menyimpan rasa lain selain kata sahabat. “Kita pulang yuk, di pergelangan tanganku telah menunjukkan pukul 20.15 PM. Mobil jemputan kita akan datang beberapa menit di Mahattoh Darrosa, lagipula bintang Timur itu tidak akan hilang selama ingatan itu terus ada” ucap sang anak kuliyahan merayu sahabatnya pulang.
“Baiklah, tapi janji yah. Bintang itu tetap ada?!”
“iya, janji”.
Gami, 18-B :)
Tags: antara kau dan kamu Current Location: Cairo Current Mood: calm Current Music: Apa Aja
|
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |

 |
|
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |
"Ssst….Hani, ada Alfan datang, ayo dong temui dia" desak Maya padaku, akupun menjadi salah tingkah dibuatnya, kelas begitu ramai apalagi diluar, aku tidak berani membayangkan kalau aku harus benar benar menemui Alfan, apa kata dunia nanti? Si Asrihani seorang aktifis rohis berpacaran dengan Alfan, sang idola cewek-cewek SMU Persada, duh gusti, apa yang harus kuperbuat? dia semakin dekat dariku Tuhan….!
"Assalamu'alaikum Hani "suara bariton itu memenuhi gendang telingaku.
"Waalikumussalam, eh Alfan..." Lidah ku benar-benar kelu, apa ini memang benar-benar rasa….?? Ya Rabb jangan sampai virus itu mengotori hatiku, ingin rasanya ku tarik lengan untuk siap-siap beranjak pergi dari kelas.
"Maaf Fan ada perlu apa?" tanyaku, akupun berusaha semaksimal mungkin untuk menenangkan diriku yang sudah kebat kebit ngga' karuan.
"Em…gimana kalau kita ngobrolnya diluar aja, atau kalau kamu engga' keberatan, gimana kalau kita ke kantin, biar rileks!" ajaknya. Suara yang keluar dari mulutnya tetap datar dan tenang.
"Apa…!!" Jawabku kaget. Tanpa sadar aku menggaruk kepalaku yang memang tidak gatal, aku sengaja berbuat demikian guna menutupi sedikit parasaan ngga' enak untuk menjelaskannya.
"Fan…!, Aku kira rasanya lebih baik kita bicara disini saja, tidak ada bedanya kok, lagipula disini kan lebih aman, biar tidak ada timbul kecurigaan dan fitnah antara kita" kataku menjelaskan. "Ya sudah kalau begitu, aku cuma mau beri sesuatu buat kamu" ujarnya sambil menyerahkan bingkisan, aku hanya bisa terpaku diam, apalagi suara itu begitu dekat, yah dekat sekali…
"Hani, sampai kapanpun mentari itu akan selalu bersinar menyinari hatiku" Langkah tegap itupun pergi meninggalkanku yang masih dibawah alam sadar, tak pelak lagi suara tepuk tangan dan siulan-pun menjadi riuh ditelingaku, tak kupedulikan tatapan semua orang saat ku berlari keluar kelas, mushola sekolahanku yang bisa kujadikan alternatif tujuanku, kutumpahkan semua tangisku, ingin rasanya keluar dari kehidupan dunia nyata ini.
"Ya Rabbi… bantulah hamba-Mu ini, sungguh aku tak bermaksud ingin menyingkirkan cinta-Mu, hamba hanya ingin meminta, kembalikanlah hati ini, untuk selalu berlabuh di dermaga-Mu." Keluhku pada Sang Kasih.
Alfan merupakan sosok yang sudah tidak asing disekolah ini, hampir sebagian siswi SMU Persada menaruh hati padanya, tapi kesemuanya belum mendapatkan sedikit titik respon cintanya dengan alasan yang selalu dilontarkan kepada mereka "Sudah ada mentari di kehidupanku" klise memang, tapi tak heran jika sebagian siswi masih menaruh harap dia-lah sang mentari itu. Aku sebenarnya tidak peduli dengan kehadiran Alfan disekolah, tapi sudah banyak gosip yang sudah beredar, bahwa Alfan menaruh harapan padaku, aku hanya tersenyum simpul, apa peduliku?!! Biarkan gosip itu berlalu, lagipula aku termasuk penentang berat soal pacaran, Islam-pun melarangnya, so what??
Tapi kejadian itu tidak bertahan lama, seminggu yang lalu dia mengungkapkan perasaanya, katanya mentari yang menyinari itu adalah aku…!!! Terhenyak mungkin, tapi yang lebih parah virus itu mulai menjalari hatiku, Ya Rabbi, ampunilah hamba….
"Hani, kamu kenapa..?? punya masalah dengan Alfan lagi ya?!" Ternyata mbak Nina, seniorku di rohis memergokiku sedang merundung duka, maka tak terelakkan, akhirnya dia menjadi tumpahan curahan hatiku, semua uneg-unegku kuungkapkan seluruhnya sampai tuntas.
"Aku bingung mbak, bagaimana ku harus menyikapinya? padahal yang aku rasa tidak ada sikapku yang berlebihan terhadap Alfan!! apalagi memberi harapan" ujarku setengah dongkol.
"Hani, perasaan suka adalah merupakan suatu fitrah, tapi jika dalam merealisasikannya pada jalan yang salah, maka dosa akibatnya. Mungkin Alfan sampai saat ini belum tahu bagaimana seharusnya dia mengendalikan rasa itu, kita hanya bisa berharap semoga dia cepat menyadarinya, mungkin dengan diaktifkannya dia dalam event-event kegiatan, kerohisan, dan kajian-kajian tentang keislaman, cepat atau lambat dia akan mengerti sedikit demi sedikit. Tenanglah Hani, serahkan semuanya pada Allah"
"Jazaakumilloh ya mbak" aku mulai menghapus air mata yang mengaliri kelopak mataku. Ach mbak Nina, andaikan engkau tahu, justru aku-lah yang perlu dibenahi.
"Hani, kita pulang sama-sama yuk!" ajak mbak Nina.
"Terima kasih mbak, Hani masih mau disini, mbak duluan saja" tolakku halus.
" Ya sudah, hati-hati ya! Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumussalam." Jawabku.
Damainya hati ini, andai saja setiap hari aku bisa seperti ini menjalankan segala aktifitasku tanpa terkontaminasi akan suara iblis yang menjajah hati dan perasaanku.
Kreek..!!suara pintu mushola terbuka, siapa yang datang ya? tanyaku dalam hati. Alhamdulillah mushola ini pakai hijab jadi aku bisa leluasa, sehingga tak kupeduliakan siapa yang datang ke mushola. Saat ini yang ada dalam benak pikiranku hanya ingin mengadu pada kekasihku…
" Ya Rabbi…
Suaraku terputus, ada seseorang yang sedang berbicara dibalik hijab yang membatasi antara kami.
"Zak, aku ngga' ngerti dengan sikap Hani selama ini, dia begitu cuek dengan apa yang aku lakukan, semuanya hanya dibalas dengan ucapan terima kasih"
"Alfan…Alfan…!! kau ini belum mengerti juga rupanya, kalau Hani berbuat seperti itu, berarti dia sangat menghormati dirinya dan juga dirimu…"
"Maksudnya… Aku?"! Nada Alfan yang mulai diliputi kebingungan dengan penjelasan Zacky.
"Kenapa mesti heran dengan orang yang ingin berbuat baik? Dia justru malah berbuat sesuatu yang sangat tepat, karena dia faham betul akan ajaran Islam yang sangat mengajarkan norma batasan-batasan dalam pergaulan antara lelaki dan perempuan, so.... mengenai perasaanmu, take easy aja lagi!! Semuanya akan berlalu, seiring dengan kuatnya Azammu, jikalau memang jodoh, dia tak akan lari kemana-mana, oke bro..?!"
" Hmh….tapi aku…"Alfan kembali gelisah.
Rasanya aku harus keluar dari sini, kutenangkan diriku untuk mengambil langkah keluar dari mushola, tapi…
"Hani!!! Ada apa dengan dirimu, kenapa kau selalu menghindar dariku Hani?" teriaknya.
Dan, yah ketahuan dech…
"Eh Fan, hmm... engga' apa-apa ko, maaf aku harus pulang sekarang! Permisi" jawabku kikuk, lalu kubalikan badanku hingga mataku mulai memanas. Masya Allah!!!
Saat ini aku akan menyibukkan diri dengan segala aktifitas, walaupun rumor mengenai aku dan Alfan semakin beredar di sekolah, aku hanya bisa bersabar dan sedikit demi sedikit menghapus gosip yang kian menjadi.
"Eh, Kak Hani, ada puisi lagi tuh dimading, katanya special buat Kak Hani, bagus lho puisinya" Rani mulai memojokkan diriku engga karuan.
"Iya, Kak Hani beruntung banget dapetin cowok kayak Kak Alfan, sudah ganteng, pintar, pujangga lagi!" tutur Rina tak kalah semangatnya dengan Rani.
"Weeesh!!! Kak Hani memang keren" bisik Sri ditelingaku. Hatiku mulai bergelora ingin rasanya menyemburkan lahar-lahar panas pada mereka. Bahaya, bisa-bisa aku emosi dan mendamprat mereka. tapi kucoba untuk tenangkan diri, sabarkan hamba-Mu ini ya Allah....
"Adik-adik sudah ya..., masalah ini engga usah diungkit kembali, Ayooo…apa adik-adik sudah melupakan kajian minggu lalu mengenai jaga hati?!, so… kita harus menjaga hati bareng-bareng oke?!! Kemudian adik juga jangan terlalu mudah percaya dengan berita-berita yang tak jelas seperti itu. Eng…. Kakak permisi mau ke kelas dulu ya, salam'alaikum..."
"Tapi Kak..." suara Rani tertahan, namun aku terus menapakkan kaki berjalan meninggalkan mereka, barangkali sikapku ini kekanak-kanakan, tapi bagaimana lagi? Aku sudah bosan mendengarkan mereka bercuap-cuap mengenai diriku.
"Hei Han…!! sini!! Ada puisi buat kamu dari Alfan, so cepetan sini!! nih, aku cuma menyampaikan amanat darinya" Komentar Maya padaku, namun tak kupedulikan lagi, dan aku tetap mengambil langkah menuju kelas, namun tidak hanya itu, kini dimejaku sudah ada puisi tergeletak diatasnya, entah dari siapa lagi ini…..??
"Hmm… Alfan lagi, rasa-rasanya aku harus bicara sama dia, semua yang dilakukan sudah diluar batas, puisi setiap hari, bingkisan-bingkisan yang seolah mengalir bagai tetesan air, tetapi kenapa justru ada jiwa yang hilang ketika semua itu tidak ada, Uggh!! Mulai lagi permainan syaithan, aku benar-benar sudah lelah menghadapinya.
"Hani, kamu baik-baik saja kan??" tanya Ifah, teman sekelasku.
"Tadi aku sempat baca puisinya Alfan, wah romantis banget yah, gak nyangka aku, ternyata dia puitis juga..." Tuturnya dengan mimik yang lucu.
"Fah…! kamu ini bukannya mbantu aku kek, malah membahas puisinya Alfan lagi! bentakku.
"Ups...! Afwan dech, aku kan cuma canda, eh Han, kamu sudah ada solusi belum buat keluar dari permasalahan ini?" Tanya Ifah padaku.
"Gimana ya Fah…? disisi lain aku pengen banget keluar dari permasalahan ini, tapi aku…" kuhentikan ucapanku, aku benar-benar jatuh terpuruk….
"Han... Hani...!! Jawab dong Han!! Ifah terus saja mengguncangkan bahuku.
"Fah…!! Please dong, bantu aku untuk selalu menjaga hati ini, aku lalai, aku khilaf, Bantu aku Fah… !"
Tangisku pun meledak, Ifah memelukku erat kudengar suaranya yang lembut menenangkan jiwaku yang kian goncang.
"Tenang Han, semua akan berjalan seperti apa adanya, Allah tidak akan memudahkan hamba-Nya selama kita selalu mengingat-Nya"
"Hani, kamu kenapa...??" teriakan Ifah di telingaku begitu jauh, lalu yang kurasakan semuanya hanyalah gelap…
"Anak Ibu hanya mengalami rasa lelah yang begitu hebat, biarkan 3 hari ini ia istirahat dirumah, semoga keadaannya cepat membaik" kata dokter Adi sembari memberikan resep pada mama.
"Terima kasih dok, Insya Allah pesan dokter akan selalu kami ingat" kata mama.
"Mari semuanya, saya permisi dulu" dokter Adi-pun permisi pulang dengan diantar mama dan papa sampai beranda depan, kulihat disampingku Ifah dengan mata sembabnya.
"Ya ampun Ifah!! Sebenarnya aku kenapa..?"
"Sudahlah Han, jangan banyak bicara dulu, sekarang yang penting kamu istirahat terlebih dahulu ya...! Insya Allah ku juga teman-teman yang lain bakal berkunjung setiap hari kesini, oke…?!!Syafakillah.." ucapnya sambil mengerlingkan matanya padaku.
"Ugh!! Dasar genit" ujarku sambil melemparkan bantal ke arahnya , Ifah hanya tersenyum dan lari keluar, Mmm….! dunia menjadi sepi lagi, tapi dugaan dalam persaanku meleset, mama datang dengan seabrek makanan dan obat, oh my God!!
******
Sudah 3 hari aku berbaring dirumah, Ifah dan teman-teman lainnya setiap hari menjengukku dan senantiasa memberikan segala motivasi serta dorongan untuk taqorrub pada-Nya, syukurku pada-Mu ya Allah atas nikmat sahabat seperti mereka, hingga sedikit demi sedikit aku bisa keluar dari permasalahan ini, begitu damai ketika hati ini berlabuh kembali ke dermaga cinta kasih-Mu.
Malam ini aku tidak bisa tidur kembali, suhu tubuhku mendadak naik drastis, mama mulai panik, sedang papa menelfon dokter Adi agar segera kerumah, agar segera memeriksa kesehatanku kembali.
"Ya Allah panas sekali tubuh Hani pah…!! Mama panik dan sambil menangis, aku semakin susah bernafas, sedang jarum jam sudah menunjukkan jam dua belas malam…
"Kring….kring….kring……suara telepon diruang tamu berdering."Siapa yang menelfon tengah malam begini" gerutu papa sambil mengangkat horn telfon.
"Ya halo, wa'alaikumsalam, apa??! Innalillahi Wainna Ilaihi Roji'un, iya, Insya Allah kami akan segera kesana!! Sama-sama, Waalaikumussalam.." Kulihat sekilas papa tampak panik, terakhir papa membisikkan sesuatu ke telingaku, beliau mencoba berbicara dengan mama, hingga beberapa saat ekspresi mama berubah, aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, detik itu juga aku merasa mengantuk...
"Haa!!!" Aku bermimpi buruk, Mama yang tertidur disampingku terlonjak kaget, "Kenapa sayang...? Pusing lagi?!" kata mama sambil memegang kepalaku.
"Engga' kok Ma, Hani sudah agak baikan sekarang, bener, tadi cuma mimpi aja kok" Hiburku.
"Ya udah dech, oh iya, kemaren Alfan titip surat buat kamu, katanya itu sebagai permintaan maaf sama kamu plus suratnya yang terakhir" Aku hanya menganguk tanpa memperdulikan surat itu.
"Mah…boleh ngga' hari ini Hani pergi kesekolah? sekarang Hani sudah merasa baikan kok…!, pegang aja deh kening Hani kalau ngga' percaya, sudah dingin kan he….he…." ujarku manja pada mama.
"Boleh, boleh, tapi sekarang Hani harus ikut mama sama papa kerumah sakit dulu ya sayang!"
"Kerumah sakit? emangnya siapa yang sakit Mah...? lagipula Hani sudah sembuh kok" Tanyaku penasaran.
"Pokoknya Hani sekarang bersiap–siap, sebentar lagi kita kerumah sakit, cepetan" komentar mamah tegas, hingga aku-pun tak sanggup menolaknya.
"Ya Mamah…" Sungutku, mau engga mau aku harus bersiap-siap, tapi siapa yang sakit yaa…? tanyaku dalam hati.
Tiba dirumah sakit, Mama dan Papa berjalan dengan cepatnya, sampai aku-pun tertinggal jauh beberapa meter di belakang, tapi hei!! Bukannya itu Ifah, Maya dkk, pak kepala sekolah juga ada, itu Bu Halimah, Pak Andi dan guru-guru yang lain-pun ada, so... kenapa mereka pada ada disini? siapa yang sakit emangnya? Gumamku dalam hati.
"Fah ada apa emang? Kenapa kalian berkumpul disini? siapa yang sakit" Kulihat Ifah hanya menunduk kepalanya, perasaanku semakin tidak karuan, dadaku mulai sesak dan aku pun mulai sedikit panik.
"Ayolah, jangan sembunyikan sesuatu dariku" desakku pada Ifah, tapi ia hanya diam seribu kata, sampai kudengar suara mamah memanggilku. "Hani ayo sini" tangn Mamah lembut menyentuhku sambil menarik diriku masuk ke dalam kamar jenazah, dan kenapa pula mamah mengajakku kesini?
"Hani….!" suara papah terdengar berat dari telinga kananku
"Hani harus sabar dan tabah seperti teman-teman yang lainnya, semua ini adalah skenario takdir-Nya, papa dan mama juga teman-teman yang lain tidak akan merahasiakan apapun darimu, tapi hanya ingin mencari waktu yang tepat, karena dalam hal ini hanya Hani yang belum tahu soal ini, maka papah beri tahu sekarang bahwa Alfan teman sekolahmu, telah berpulang ke Rahmatulloh kemarin malam." Suara papah yang sedikit bijaksana tapi terdengar paraw menjelaskannya padaku dengan yang telah terjadi.
"Apa..!! Alfan meninggal? ya Allah... Innalillahi Wainna Ilaihi Roji'un" Pasrahku pada-Nya dan kucoba tuk tenang walau seakan aku tak percaya dengan semua ini, orang yang selama ini masuk kedalam benakku telah pergi meninggalkan dunia ini selamanya. Sungguh aku tidak percaya dan tidak berharap agar airmata suci ini menetes menglir menganak sungai, tapi apa boleh dikata, aku hanya manusia biasa yang mempunyai perasaan tidak akan selalu kuat menahan kesedihannya, kecuali atas izin Allah, maka akhirnya air mataku pun mengalir tanpa kusadari. Perasaan sedih yang hadir di dalam diriku bukan karena apa pun, hanya seorang teman yang pernah hadirkan diri dalam seribu kenangan lembaran dikehidupan ini, dan tanpa kusadari surat dari Alfan terbawa, penasaran yang begitu hebat membuatku ingin membaca surat itu…
Selalu Kasih Nya…dalam hatiku….. Kini aku mengerti akan diammu Saat aku mengatakan Aku menjanjikan dunia yang indah untukmu Karena ternyata kau lebih memilih Menjaga Izzahmu sebagai muslimah
Aku bangga!!! Kini aku mengerti ketegasanmu Saat aku mencoba meyakinkan Kebahagiaan yang aku janjikan
Karena ternyata … Kau berupaya untuk selalu menjaga keutuhan cinta Nya Hingga aku begitu mengormatimu
Tapi… Aku mulai memahami dan menyadari.. Cinta-Nya begitu teramat agung Untuk aku khianati… Maafkan ….
Terdengar suara Ifah dari belakang punggungku "Alfan kecelakaan kemarin malam, setelah mengikuti pengajian di Masjid Agung ar-Rahman dekat sekolah kita." terangnya.
"Ku akui, memang dalam 1 minggu terakhir ini semenjak kau sakit, ia kulihat semakin berubah drastis, lebih diam dan lebih sopan" suara Maya sahabat karibku menimpali. "Dia lebih banyak menghabiskan waktu istirahat untuk membaca al-Qur'an dan shalat Dhuha" lanjutnya kemudian. Sebetulnya masih banyak, pembicaraan–pembicaran yang menceritakan kebaikan Alfan, akupun jadi teringat perkatannya yang kritis saat mulai aktif di rohis, yakni.. "Oh jadi pacaran itu sebenarnya tidak ada dalam Islam ya?…tapi kenapa justru hal itu yang bayak dilakukan oleh sebagian pemuda Islam?Hmm..berarti kita harus pandai-pandai menjaga hati ya.." katanya waktu itu.
"Islam benar-benar perfect , I like it!! dan Islam begitu memulikan seorang wanita.. ya Allah terima kasih akan pemahaman ini padaku" Terangnya sambil bersyukur akan nikmatnya hingga ia semakin percaya akan Islam. Dan masih banyak lagi komentar-komentar Alfan waktu itu, aku hanya bisa berharap dan selalu mendoakannya semoga sahabat ku itu selalu berada dalam limpahan rahmat-NYa. Amiin, ya Rabb...
Penghujung Juli 2006 Tags: allah-ku tuhan-ku Current Location: Cairo Current Mood: bouncy Current Music: Bismillah
|
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |

 |
|
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |
Hai you'R... I've To Sort Story.. Story My Backing.. Background when I love Her.. But Now is No More.. She's Gone 'n I Don't Know.. Where She's Going..
Ia laksana Syurga.. Dara yang selalu Periang.. Dengan Senyum yang Terus Mengembang.. Dan Selalu Senang Walau Badai Menerjang..
Doi Desainer karena jika doi ada di sampingku, maka suasana di sekelilingku kan berubah menjadi Indah, laksana taman bunga dengan sejuta warna.
Doi juga seorang astrologi, coz di bola mata-nya selau ada bintang, yang terus bersinar dan berbinar-binar. Biru menawan.
Satu lagi doi juga penyayang binatang kecil bernama semut, alasannya di manapun doi berada maka di situ-lah semut berada, habisnya doi manis seeh.. Bagai gula.
Tapi.. Kini doi jaim jika bertemu aku, doi mahal harga pasarnya, doi keluaran Super Plazza Mall, gak bisa kita tawar hanya dengan senyuman, apalagi ucapan gombal yg sama persis dgn apa yg aku lakukan sekarang, nicaya gak akan mempan.
Yah begitulah realita dan bukan hanya opini belaka... Current Location: Cairo Current Mood: jealous Current Music: Jojo >> Exceptional
|
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |

 |
|
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |
"Salamu’alaikum Fan…" Salam Adi membuyarkan perhatianku dari layar komputer. "Gimana nih dengan calon istri, katanya bulan depan nikah?!" Lanjutnya. "Gak tau nih Di, ana juga masih gak tau siapa gadis itu, lagipula ana masih punya hubungan dengan Hani" "Tapi itu kan kehendak orang tua ente, kita mau berbuat apalagi selain menurut. Apa kita mau mengecewakan mereka?!" "Iya sih, justru itu yang membuat ana kebingungan, ana harus bersikap bagaimana, apa ana harus memutus hubungan dengan Hani, sedang hatiku begitu mencintainya?!" "Iya, ana ngerti, mencintai dan menikahi Hani memang sudah cita-cita ente dari dulu setelah lulus nanti, tapi sudahlah, turuti aja apa kata orang tua, ente kan tau syurga itu ada dibawah telapak kaki ibu?!" Saran Adi mengakhiri.
"Ya udah deh, itu mah terserah ente, ana cuma kasih solusi aja, sedang keputusannya terserah ente. Oh iya, ana pulang dulu yah, kebetulan hari ini ana piket masak, kasihan anak-anak kalau ana masak telat, oke.. see you next and Allah yubarik" "Wa iyyaka, syukran dan ma'a as-salamah Di. Hati-hati di jalan..." Begitulah percakapanku dengan Adi kawan sedaerahku, Jawa Barat. Dia memang sudah dekat denganku semenjak baru menginjakkan kaki di Kairo, tanggal 22 Okteber 2009 lalu. Kami berdua memang sudah saling terbuka, entah masalah formal atau-pun nonformal, bahkan kami bisa dibilang, apa yang aku ketahui, maka Adi-pun mengetahui, begitulah kira-kira ikatan persahabatan kami. Ibu menyuruhku tuk segera nikah dengan gadis pilihannya, aku sendiri belum tau siapa dia, lebih-lebih karakternya, hanya saja ku tau informasi dia ketika paman menelfonku, bahwa kelak calon istri yang ibu pilih sudah memenuhi kriteria yang disabdakan oleh baginda Rasul, baik dari segi inner maupun outter, dia pernah nyantri di pesantren dan lulus dengan nilai jayyid jiddan. Hanya itu keterangan yang ku dapat dari paman tiga hari yang lalu. Apa peduliku emang dengan semua itu, mau lulusan pesantren kek, dengan nilai jayyid jiddan kek, dimana kek, siapa kek, apa kek, yang penting bagiku gadis itu misterius, dan aku masih belum tau apakah bisa mencintainya sedang hatiku masih terpaut dengan Hani. Juga bagaimana nanti aku merajut cinta dengan orang yang tidak jelas seperti itu, apalagi kalau sudah berumah tangga, rumah tangga apaan kalau didalamnya tanpa ada rasa cinta. Ah... ibu jika kau memperbolehkan aku memilih tuk memenuhi cita dan cintaku bersama Hani?! Bingung aku jadinya. Tanpa terasa adzan maghrib telah berkumandang, segera ku matikan komputer dan bergegas mengambil handuk kemudian langsung menuju kamar mandi.
--@@@--
Seminggu sebelum keberangkatanku ke tanah air, sengaja ku berkunjung ke rumah Hani, yang terletak di Second Gate Nasr City. Sekedar mau pamit dan meminta maaf atas semua ketidakberdayaanku menolak segala keputusan orang tuaku, memang sebelumnya dia sudah mengetahui kalau aku telah dijodohkan dengan gadis pilihan orang tuaku, ketika ku ceritakan di Cafe Gaul Bismillah dua hari setelah ibu menelfonku dan menyuruhku agar segera pulang dan menikah dengan gadis pilihan beliau. Namun yang mengherankanku waktu itu, justru Hani hanya tenang-tenang saja dengan keteranganku, malah dia tidak terkejut sama sekali dengan kabar pernikahan itu, bahkan cemburu-pun tidak. Dia terus diam, diam dan diam seribu bahasa, hanya satu yang dia katakan "Turuti apa kata orang tua, insya Allah akan baik bagi kita, dan Allah ma’ana dan always ma’ana". Mungkin karena dia lebih dewasa dan mengerti akan ketaatan seorang anak terhadap orang tuanya, maka ia-pun hanya ridho dan menyerahkan segala keputusannya padaku, niscaya jika kita terus berdoa dan berusaha maka semuanya akan terkabul cita-cita kita tuk menyempurnakan dien setelah lulus dari universitas al-Azhar ini. Sesampainya di rumah Hani, di kawasan Second Gate Nasr City Kairo, segera ku tekan bel warna merah yang teretak di samping kanan pintu "Ting tong..!" "Siapa... dan mau ketemu sama siapa?" Tanya suara seorang dari balik pintu. "Ana Alfan, mau ketemu dengan Hani" Seketika pintu terbuka, dan ku dapati seorang gadis berjilabab telah berdiri di depanku beberapa meter. "Sebelumnya afwan, Hani sudah pulang ke Indonesia lima hari yang lalu. Hani memang sempat titip salam buat antum, tapi dia berpesan agar kepulangannya tidak diketahui oleh antum, maka kami serumah tidak ada yang berani memberitahukan antum akan kepulangannya. Sekali lagi kami minta maaf jika antum merasa tidak enak, tapi memang begitulah kenyataannya. Ini amanat bagi kami dari Hani, jadi kami tidak berani melanggarnya, harap antum mengerti" Terangnya panjang lebar. Dough...! Seketika tubuhku merasakan amarah yang sulit ku kendalikan, aku amat kecewa dengan tindakan Hani kali ini, namun ku tahan sekuat mungkin agar marahku tidak tertumpahkan pada gadis di depanku. Hani begitu keterlaluan dengan keputusannya tuk tidak memberitahukan kepulangannya padaku, seakan ia menganggapku tiada, jadi apa manfaatnya hubungan yang sudah hampir tiga tahun itu, jika lantas berakhir dengan kekecewaan. Mengapa dia tidak cerita-cerita kalau mau pulang, apa dia merasa sakit hati dan kecewa ketika ku ceritakan tentang perjodohanku kala itu, ya Allah apa yang hendak Kau lakukan terhadapuku?! Tapi bukankah...... "Ehm... apa ada keperluan lain, ustadz?" "eh... tidak... ya udah... gitu aja... syukran yah.... hmm... salam’alaikum" "Wa’alaikum salam" Pamitku dengan suara terbata-bata karena tidak percaya dengan keterangan barusan, aku kecewa dengan keputusan Hani yang pulang tanpa memberitahukan terlebih dahulu. Aku kecewaa....! Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam hati di sepenjang perjalanan pulangku ke Masakin Utsman, aku tidak mengerti dengan semua kejadian-kejadian yang selama ini menimpaku, mulai dari perjodohanku yang mendadak dengan gadis pilihan orang tua, lalu dilanjut dengan sikap ketenangan Hani kala ku menceritakannya, dan kini dia pulang tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu kepadaku. Apa dia merasa kecewa dengan keputusanku waktu itu?! tapi bukankah dia juga yang menyuruhku agar menuruti kehendak orang tua, niscaya akan baik bagi kita dan Allah ma’ana dan always ma’ana?! "Ah... kau Hani, tambah membuat aku suntuk saja" Rutukku dalam hati. "Ya Allah, apa maksud dari semua skenario yang Kau buat akhir-akhir ini, aku hanya bisa bertawakal hanya pada-Mu semata ya Allah, begitu banyak rahasia yang belum ku mengerti. Maka jadikanlah aku termasuk dari orang-orang yang bersabar ya Allah" Amiin. Adahku menenagkan diri.
--@@@--
Di ruang Egyptian Airport, ku menghampiri Adi yang ikut mengantarku bersama Zacky dan Andi. "Syukran ya Di atas semunya, doakan ana agar bisa meraih cita dan cinta dengan gadis misterius itu, serta bisa menyisihkan kenangan manis di hati ini, selama lebih dari tiga tahun berhubungan bersama Hani" "Pasti ana doain deh Fan, apa sih tidak buat ente?! Ya udah pasti ente bisa meraih cita dan cintanya tanpa menyisihkan kenangan manis bersama Hani, percayakalah pada-Nya, insya Allah semua akan baik bagi ente, Allah selalu bersama hamba-Nya yang beriman, dan doaku senantiasa menyertaimu dimanapun ente berada, hati-hati juga di sana, dan salam buat calon istrimu" Trililit... trililit..., trililit... trililit.... Hp-ku berdering, sejenak ku lihat layar monitor Hpku, dan tertera nama dan nomer mamah. Ya mamah menelfonku. "Assalamu’alaikum sayang, udah siap-siap belum dan sekarang sudah di mana?" Tanya mamah diseberang sana. "Wa’alaikum salam mah, Alfan masih di bandara, setengah jam lagi cek in, doakan ya mah agar Alfan selamat sampai tujuan. Eh mah boleh tau gak, siapa sih gadis pilihan mamah itu?!" Tanyaku penasaran tanpa mau menyiakan kesempatan mamah yang kebetulan menelfon. "Iya sayang, mamah pasti selalu mendoakan, gadis yang hendak kamu nikahi itu, insya Allah sudah menuhi kriteria yang disabdakan oleh baginda nabi, dia tidak hanya cantik, baik hati dan tentunya shalehah, dia sudah siap segalanya. Dan sekarang dia ada di rumah bersama kedua orang tuanya, rencananya mau ikut menjemputmu di bandara besok sore, apa mau berbicara dengan dia?!" "Boleh deh mah kalau tidak keberatan" "Sebentar yah..." Beberapa detik kemudian. "Halo Assalam’alaikum" Suara lembut yang begitu familiar menyalamiku Subhanallah, bukankah ini suara Hani?! hatiku bertanya. "Ha... hallo wa’alaikum salam..." "Jangan lupa berdoa yah di perjalanan seperti doanya Nabi Nuh kala banjir melanda kaumnya yang kufur, Adinda di sini terus mendoakan" Aku ingat. Kini Aku ingat. Siapa suara yang begitu familiar itu "Hani...! eh Adinda....! Betulkan kau ini, Adinda Hani Wulandari?!" "...... Iya Kak, ini memang Hani, alhamdulillah Hani selamat sampai tujuan, afwan Hani tidak memberitahukan tentang kepulangan Hani dan perjodohan itu, sengaja Hani ingin membuat Kak Alfan surprise, cepat pulang Kak, jangan mampir kemana-mana dulu. Hani rindu...." Namun, nut... nut... nut... dan suara-pun terputus. Allahuakbar... subhanallah... seketika semua pertanyaan-pertanyaan yang misterius itu kini telah terbongkar, lega rasanya pulang tanpa adanya beban pertanyaan, ternyata perjodohanku, ketenangan Hani waktu itu, serta dengan kepulangannya tanpa pemberitahuan dahulu, kini telah aku pahami. Alhamdulillah tuhan, tapi subhanallah, ampunilah hamba yang sempat berfikir negatif pada Hani juga orang tuaku. Ya Allah, Kau memang selalu menyayangi hamba-Nya yang selalu sabar dan terus berbakti kepada orang tuanya, maka nikmat tuhan manakah yang layak aku ingkari?!. Seketika itu akupun jatuh bersujud membesarkan diri-Mu, aku tambah yakin akan kebesaran-Mu maka peliharalah imanku ini agar terus lurus berjalan di jalan-Mu tuhan. Amiin.
Di penghujung winter 2005 Current Location: egypt Current Mood: blank Current Music: Jojo >> Too Little Too Late
|
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |

 |
|
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |
"Kalaulah bukan karena firman-Nya dan sabda Rasul-Nya agar menyuruhku dan mewajibkanku tuk bersabar, niscaya akan ku bunuh dan kubuat hidupmu menderita!" Di penghujung perjalanan asmaraku bersama Vina, malam itu aku memarahinya dengan kata-kata yang selalu aku pertahankan agar tidak keluar namun sekali ini ku terpaksa terucapkan, "Bangsat..!" Satu kata yang belum pernah aku ucapkan sebelumnya selama asmara itu masih seperti es krim. Dan kemarahan itu membuat hatiku dan hatinya menjadi terbelah dan berjarak, dan semakin hari semakin jauh renggang jaraknya hingga akhirnya asmaraku tak lagi terasa dekat, atau bisa dilukiskan laksana es krim yang habis mencair. Betapa tidak panas-bukan berarti marah-, malam itu ia tidak menggubris kedatanganku, dan kulihat sepertinya ia baru pulang dari suatu tempat bersama Tiara dan teman-teman lelakinya. Memang aku akui, dalam perjanjian setelah lewat dari pukul 21.00 Wk bukan lagi hakku tuk bertemu, tapi masalahnya kenapa ia pergi sampai larut begini. Apa yang ia lakukan selama itu, bersama laki-laki lagi. "Bah... sabarkanlah hati ini Tuhan". Ditambah ketika pagi harinya kudatang lagi untuk kedua kalinya, sampai aku kuat menunggunya bangun yang memang ia masih terlelap di kasur; waktu itu sekitat pukul 09.30an, namun seketika setelah bangun ia lantas hanya menyapa "hai..." habis itu langsung mandi dan pergi lagi bersama Tiara entah ke mana tujuannya tanpa berbuat apa-apa terhadapku, so betapa tidak geram menerima kelakuan dari seseorang seperti itu dari semalam?!, walaupun ia resmi sebagai pacarku, namun salah tetaplah salah. Daripada lama-lama merasakan panas di dada, akhirnya kulangkahkan kaki menuju dapur, menemani Tifani temanku yang sedang memasak, mungkin dia faham akan kegundahanku, karena memang ia lebih tua dariku dan lebih akrab daripada teman-teman se-flatnya, dan pastinya wanita lebih cepat dewasa; katanya. "Kenapa kamu Ris, santai aja lah. Dia biasa kok seperti itu." Sapaanya begitu ia mlihatku murung. "Apa... Biasa katamu Fan? So dia biasa memperlakukan lelaki seperti ini?!" aku mulai penasaran dan ingin minta keyakinan plus emosi pula. "Yee... bukan begitu maksudku, dodol. Perasaan seperti kamu itu sudah biasa, ya... anggap aja ini sebagai bumbu asmara kalian, santai aja lagi. Betul toh?! "Semoga saja begitu, puih.. kirain dia ngelakuin begitu sama lelaki udah biasa, nyatanya emng iya. He.. he.. canda J". Sungguh kelezatan es krim cinta yang pernah kukecap bersama Vina hanya terasa sedikit daripada banyaknya rasa yang mencair disebabkan suhu yang panas; yeah... suasana panas dalam hati kami berdua. Dan terbukti beberapa hari setelah insiden malam yang berlanjut pagi hari itu, Vina datang menghampiriku sambil terisak ia berucap. "Kak, es krim kita telah mencair, dan tak ada lagi yang bisa Kakak nikmati dari es krim ini. Buanglah Kak dan carilah yang baru, yang lebih manis dari es krim yang Kakak rasakan sekarang." ucapnya. Dalam hati aku berkata, "gila ini cewek, emangnya mudah cari es krim semanis kamu, di Kairo ini susah tau cari cewek semanis kamu, Vin". Tapi aku faham, memang kemarahan yang aku awali dengan kata bangsat di SMS itu membuat rasa cinta itu jadi pahit, bahkan ku tidak tau lagi rasanya; pahit tidak, tawarpun ngga, so apalagi manis?! pastinya jangan diharapkan; tiada rasa dan semuanya hambar. Apalah artinya cinta jika dalam sehari bisa berubah menjadi dusta, dan apa artinya rasa bila dalam sekejap bisa berubah menjadi murka. *** Aku baru sepenuhnya menyadari topeng cinta yang Vina kenakan telah pecah, dan malah kepingannya kini ada di hadapanku, seketika dengan gaya terkesan dibuat-buat ia minta maaf atas topeng cintanya padaku. Akhirnya ia mengakui bahwa asmara yang dijalani tiada lain hanya ingin bisa merasakan ke-enjoy-annya belaka, atau baginya cinta yang kuberikan hanya sebatas permainan. Bertepuk sebelah bantal. Persetan bagi kau wanita yang mempunyai sifat seperti itu. "Wanita bangsat..!" hardikku dalam hati. Entah pantas atau tidak, yang penting bagiku kini ia tak lain sebagai wanita bedebah yang hanya menjadikan laki-laki sebagai permainan. Aku bersumpah ingin menjadikan cinta yang dia anggap sebagain mainan, dan hanya senang yang ia rasakan; akan kubuat ia merasa kehinaan dan keterpurukan akibat ia mempermainkan cinta. Tapi sanggupkan aku membuatnya terpuruk dan hina hanya gara-gara mempermainkan cintanya padaku, sedang aku sendiri pernah berjanji padanya yang disaksikan oleh temanku Taufik, bahwa aku selalu siap mendukung dan berdo'a semoga harapannya segera terpenuhi, atau apakah ini memang harapan yang ia inginkan; mempermainkan cinta atas nama tubuh dan paras yang manis. Ah.. biarlah, yang jelas aku memang selalu setia dengan apa yang aku janjikan, walau harus merasakan sakit yang tak terkira, namun ia tetap wanita yang mungkin diciptakan hanya untuk bersenang-senang terhadap cinta tanpa bisa mencintainya. Dan kini mainan yang ia senangi dulu sudah membuatnya bosan, dan tentunya fitrah manusia selalu berharap agar segera dapat gantinya, maka selang beberapa hari iapun sesegera mencarinya; mencari obyek mainan hati yang lebih menyengkan dirinya dan juga tentunya dapat dipamerkan. Aku permah menbaca satu kalimat yang tertulis di tengah-tangah halaman novel berjudul Noktah Merah bahwa perempuan adalah cahaya tuhan, dia bukan dicintai secara duniawi. Dia berdaya kreatif dan bukan hasil kreasi. Yah.. memang aku sadari wanita memang demikian, tapi terkadang ia yang mendahuli dan memaksa lelaki untuk menjadikannya terbalik dari kalimat itu, bukan lagi cahaya tuhan atau yang berdaya kreatif; melainkan kegelapan yang terpancar dari daya yang pasif. Maka jangan salahkan aku jika kehadiran bayang-bayang gelapku membuatmu tidak nafsu makan, sebab selagi diri ini masih melihat semua tentangmu, kubertekad akan kutelanjangi topeng dan mainan cinta di retina matamu pada ribuah lelaki se-Kairo, sampai ia benar-benar merasakan penyesalan yang mungkin hanya iman yang dapat menyelamatkannya dari bayang-bayang hitam menakutkan. *** Malam bangsat yang terang namun terasa buram itu, Vina datang menghampiriku yang sedari tadi aku merasa jenuh dengan suasana yang pasif, aku yang terbiasa aktif dan kreatif merasa tidak nyaman dengan adanya kondisis seperti ini. "Aku bosan, gak ada kerjaan" rutukku pada keadaan. Dengan senyum simpul Vina berucap setelah ia duduk di hadapanku "Kak, ana gak bisa melupakan Kakak, walau hanya sejenak Kak. Ana terus-terusan ingat akan Kakak, hingga waktu belajarpun aku selalu dibayangi oleh Kakak, ana gak bisa konsentrasi belajar Kak, ujian semester V kemaren juga ana gak tau gimana hasilnya. Ana pengen tenang Kak, ana pengen konsentrasi pada pelajaran, harap Kakak faham. Maka ana pengen mengakhiri hubungan ini Kak. Lagipula ana juga ingin tidak lagi deket-deket dengan lelaki". Aku tak bisa berbuat apa-apa dengan putusannya tuk mengakhiri hubungan singkat itu, dan lemahnya lagi aku belum bisa menjadi sosok manusia jahat jika melihat aliran mata Vina yang meluap. Tanpa kusadari bibir ini-pun berucap, "Tidak apa-apa, kalau memang dengan mengakhiri hubungan ini membuat Vina bisa tenang, aku kabulkan, kuharapa apa yang kamu katakan untuk tidak dekat-dekat dengan lelaki bisa kau buktikan, makasih. Aku pamit". Di kesunyian malam itulah aku diam, memang dalam hati aku masih ingin berhubungan dengannya, namun apalah daya; bibir tak kuasa berkata kalau aku berat meninggalkannya, dan memang hal yang sulit disentuh oleh cinta adalah kejujuran. Dalam hati aku ingin terus mencintainya, namun tak kuasa mengganggu ketenangannya hanya-gara cinta. Biarlah cinta itu tak dapat dipaksakan walau terkadang waktu yang memaksakannya, dan tinggalkan cinta yang terpaksa dan hampiri cinta yang sejati. Starry Night in Winter, 15 Oktober 2007 M Current Location: Game' Current Mood: crazy Current Music: Morandi oh..
|
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |



|
 |
|
 |